![]() |
| Foto Kota Medan diambil dari udara Sumber :https://www.flickr.com/photos/thirnbeck/5359172884/in/photostream/lightbox/ |
بسم الله الرحمن الرحيم | Selamat Datang di Blog Ifal Putra #8yearsMyBlog #QuarterOfCentury
Tuesday, June 30, 2020
430 Tahun Kota Medan
Thursday, June 25, 2020
Pengalaman Pelatihan Digital Talent Scholarship 2019 (DTS 2019) Angkatan I di Universitas Sumatera Utara
Tuesday, June 23, 2020
Geografi Kota Medan
| Peta Guna Lahan Kota Medan tahun 2006 (skala 1 : 180.000) Sumber :http://blog.ub.ac.id/renaldysiahaan/2018/02/27/5/ |
| Kode Kemendagri | Kecamatan | Jumlah Kelurahan | Daftar Kelurahan |
| 12.71.07 | Medan Tuntungan | 9 | |
| 12.71.20 | Medan Timur | 11 | |
| 12.71.14 | Medan Tembung | 7 | |
| 12.71.02 | Medan Sunggal | 6 | |
| 12.71.21 | Medan Selayang | 6 | |
| 12.71.16 | Medan Polonia | 5 | |
| 12.71.19 | Medan Petisah | 7 | |
| 12.71.18 | Medan Perjuangan | 9 | |
| 12.71.12 | Medan Marelan | 5 | |
| 12.71.15 | Medan Maimun | 6 | |
| 12.71.13 | Medan Labuhan | 6 | |
| 12.71.01 | Medan Kota | 12 | |
| 12.71.11 | Medan Johor | 6 | |
| 12.71.03 | Medan Helvetia | 7 | |
| 12.71.04 | Medan Denai | 6 | |
| 12.71.06 | Medan Deli | 6 | |
| 12.71.08 | Medan Belawan | 6 | |
| 12.71.17 | Medan Baru | 6 | |
| 12.71.05 | Medan Barat | 6 | |
| 12.71.10 | Medan Area | 12 | |
| 12.71.09 | Medan Amplas | 7 |
Saturday, June 20, 2020
SEJARAH KOTA MEDAN
| Foto Mesjid Raya Al Mashun Medan tempo dulu Sumber : http://www.wisatamedan.net/?p=1085 |
![]() |
| Buku The History of Medan Sumber : https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/import/4kvutn-jual-buku-the-history-of-medan-in-the-olden-times-tengku-luckman-sinar-sh |
Dalam buku The History of Medan tulisan Tengku Luckman Sinar, SH (1991), dituliskan bahwa menurut "Hikayat Aceh", Medan sebagai pelabuhan telah ada pada tahun 1590, dan sempat dihancurkan selama serangan Sultan Aceh Alauddin Saidi Mukammil kepada Raja Haru yang berkuasa di situ. Serangan serupa dilakukan Sultan Iskandar Muda tahun 1613, terhadap Kesultanan Deli. Sejak akhir abad ke-16, nama Haru berubah menjadi Ghuri, dan akhirnya pada awal abad ke-17 menjadi Deli. Pertempuran terus-menerus antara Haru dengan Aceh mengakibatkan penduduk Haru jauh berkurang. Sebagai daerah taklukan, banyak warganya yang dipindahkan ke Aceh untuk dijadikan pekerja kasar.
Selain dengan Aceh, Kerajaan Haru yang makmur ini juga tercatat sering terlibat pertempuran dengan Kerajaan Melayu di Semenanjung Malaka dan juga dengan kerajaan dari Jawa. Serangan dari Pulau Jawa ini antara lain tercatat dalam kitab Pararaton yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu. Dalam Negarakertagama, Mpu Prapanca juga menuliskan bahwa selain Pane (Panai), Majapahit juga menaklukkan Kampe (Kampai) dan Harw (Haru). Berkurangnya penduduk daerah pantai timur Sumatra akibat berbagai perang ini, lalu diikuti dengan mulai mengalirnya suku-suku dari dataran tinggi pedalaman turun ke pesisir pantai timur Sumatra. Suku Karo bermigrasi ke daerah pantai Langkat, Serdang, dan Deli. Suku Simalungun ke daerah pantai Batubara dan Asahan, serta suku Mandailing ke daerah pantai Kualuh, Kota Pinang, Panai, dan Bilah.
Dalam Riwayat Hamparan Perak yang dokumen aslinya ditulis dalam huruf Karo pada rangkaian bilah bambu, tercatat Guru Patimpus, tokoh masyarakat Karo, sebagai orang yang pertama kali membuka "desa" yang diberi nama Medan. Namun, naskah asli Riwayat Hamparan Perak yang tersimpan di rumah Datuk Hamparan Perak terakhir telah hangus terbakar ketika terjadi "kerusuhan sosial", tepatnya tanggal 4 Maret 1946. Patimpus adalah anak Tuan Si Raja Hita, pemimpin Karo yang tinggal di Kampung Pekan (Pakan). Ia menolak menggantikan ayahnya dan lebih tertarik pada ilmu pengetahuan dan mistik, sehingga akhirnya dikenal sebagai Guru Patimpus. Antara tahun 1614-1630 Masehi, ia belajar agama Islam dan diislamkan oleh Datuk Kota Bangun, setelah kalah dalam adu kesaktian. Selanjutnya Guru Patimpus menikah dengan adik Tarigan, pemimpin daerah yang sekarang bernama Pulau Brayan dan membuka Desa Medan yang terletak di antara Sungai Babura dan Sungai Deli. Dia pun lalu memimpin desa tersebut.
![]() |
| Gambar : Tugu Guru Patimpus yang terletak di Jl. Kapten Maulana Lubis, Kec. Medan Petisah, Kota Medan Sumber : https://www.indonesia.go.id/ragam/pariwisata/ekonomi/kontroversi-asal-usul-kota-medan |
Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590 kemudian dipandang sebagai pembuka sebuah kampung yang bernama Medan Puteri walaupun sangat minim data tentang Guru Patimpus sebagai pendiri Kota Medan, walaupun masih kontroversi. Lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli). Setelah zaman kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap sehingga akhirnya kurang popular.
Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah di antara kedua sungai tersebut.
Secara keseluruhan jenis tanah di wilayah Deli terdiri dari tanah liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah. Hal ini merupakan penelitian dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan oleh penelitian Vriens tahun 1910 bahwa di samping jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang spesifik. Tanah liat inilah pada waktu penjajahan Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu (sekarang Medan Tenggara atau Menteng) orang membakar batu bata yang berkualitas tinggi dan salah satu pabrik batu bata pada zaman itu adalah Deli Klei.
Mengenai curah hujan di Tanah Deli digolongkan dua macam yakni: Maksima Utama dan Maksima Tambahan. Maksima Utama terjadi pada bulan-bulan Oktober s/d bulan Desember sedang Maksima Tambahan antara bulan Januari s/d September. Secara rinci curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam.
Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba dan di sana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk yang berasal dari Karo dan semenanjung Malaya. Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatra Utara.

Perbandingan beberapa gedung di kota Medan tahun 1930-2015
Sumber: https://www.tipsiana.com/2015/03/potret-kota-medan-tempo-dulu-dan-kini.html
Pada awal perkembangannya merupakan sebuah kampung kecil bernama "Medan Putri". Perkembangan Kampung "Medan Putri" tidak terlepas dari posisinya yang strategis karena terletak di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura, tidak jauh dari jalan Putri Hijau sekarang. Kedua sungai tersebut pada zaman dahulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai, sehingga dengan demikian Kampung "Medan Putri" yang merupakan cikal bakal Kota Medan, cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.
Semakin lama semakin banyak orang berdatangan ke kampung ini dan isteri Guru Patimpus yang mendirikan kampung Medan melahirkan anaknya yang pertama seorang laki-laki dan dinamai si Kolok. Mata pencarian orang di Kampung Medan yang mereka namai dengan si Sepuluh dua Kuta adalah bertani menanam lada. Tidak lama kemudian lahirlah anak kedua Guru Patimpus dan anak inipun laki-laki dinamai si Kecik.
Pada zamannya Guru Patimpus merupakan tergolong orang yang berfikiran maju. Hal ini terbukti dengan menyuruh anaknya berguru (menuntut ilmu) membaca Al-Qur'an kepada Datuk Kota Bangun dan kemudian memperdalam tentang agama Islam ke Aceh.
Keterangan yang menguatkan bahwa adanya Kampung Medan ini adalah keterangan H. Muhammad Said yang mengutip melalui buku Deli: In Woord en Beeld ditulis oleh N. ten Cate. Keterangan tersebut mengatakan bahwa dahulu kala Kampung Medan ini merupakan Benteng dan sisanya masih ada terdiri dari dinding dua lapis berbentuk bundaran yang terdapat dipertemuan antara dua sungai yakni Sungai Deli dan sungai Babura. Rumah Administrateur terletak di seberang sungai dari kampung Medan. Kalau kita lihat bahwa letak dari Kampung Medan ini adalah di Wisma Benteng sekarang dan rumah Administrateur tersebut adalah kantor PTP IX Tembakau Deli yang sekarang ini.
Penaklukan Aceh
![]() |
| Sultan Iskandar Muda Sumber :https://www.kompas.com/skola/read/2020/01/08/100000069/biografi-sultan-iskandar-muda-dan-perjuangannya?page=all |
![]() |
| Gocah Pahlawan Sumber:https://batak.web.id/tag/panglima-gocah-pahlawan/ |
Gocah Pahlawan wafat pada tahun 1653 dan digantikan oleh puteranya Tuangku Panglima Perunggit, yang kemudian memproklamirkan kemerdekaan Kesultanan Deli dari Kesultanan Aceh pada tahun 1669, dengan ibu kotanya di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.
![]() |
|
ISTANA SULTAN MELAYU DELI (ISTANA MAIMUN). Terletak di Jalan Sultan
Ma'mun Al Rasyid kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun Kota
Medan.Didesain oleh arsitek Italia dan dibangun oleh Sultan Deli, Makmun
Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888, Istana Maimun kini cuma memiliki
luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan Sumber:https://analisadaily.com/berita/baca/2020/06/04/1006530/new-normal-minggu-ini-istana-maimun-dibuka-untuk-wisatawan/ |
|
| Lambang Kesultanan Deli |
Pada abad ke 15 sudah ada berdiri kerajaan yang bernama Haru atau Aru, ini dapat kita baca dari laporan Fei Sin (1436) Aru terletak didepan pulau Sembilan dan dengan angin yang baik kapal layar bisa sampai kesitu dari Melaka dalam waktu 3 hari 3 malam ,hasil negeri itu hanya kopra dan pisang. Hasil-hasil hutan ditukar melalui kapal-kapal asing dengan sutra berwarna, keramik, manik-manik dan lain-lain. Juga catatan dari buku Al Muhit yang ditulis oleh seorang Laksemana Turki yaitu Sidi Ali Celebi (1554) adanya kerajaan Aru dan kota Medina (kota Medan sekarang )sebagai Bandar Besar, setelah Bandar ini kapal melewati pulau Berhala.
Menurut laporan penulis berkebangsaan Portugis yaitu Tome Pires menulis tentang Aru sebagai berikut, Aru (Haru) adalah kerajaan yang terbesar di Sumatera, rakyatnya banyak tetapi tidak kaya karena perdagangan. Aru banyak mempunyai kapal-kapal kencang dan sangat terkenal karena daya penghancurnya. Raja Aru beragama Islam dan berdiam dipedalaman, negeri ini banyak sungai-sungai yang berawa-rawa sehingga sulit untuk dimasuki. Aru banyak menghasilkan padi, daging, ikan, buah-buahan dan arak juga kapur barus berkualitas tinggi, rotan, lilin, emas, madu, benzoin dan budak-budak, Aru mempunyai pasar budak yang disebut Arqat (Rantau Perapat skarang).Aru memperoleh bahan-bahan dagangannya dari Pasai, Pedir, Fansur dan Minang Kabau Wilayah Kerajaan Aru mulai pesisir Sumatera Timur yaitu batas Temiang sampai Rokan.
1653 - Muhammad Dalik mangkat dan dimakamkan di Kampung Lantasan Kuta Dalam Deli Tua, Tuanku Panglima Perunggit pun diangkat menjadi Raja Deli II.
1654 - Lahirlah Tuanku panglima Paderap di Aru putra Raja Deli II.
![]() |
| Lokasi Makam Gocah Pahlawan. Photo.Tengku Harris Sinar |
![]() |
| Batu Jerguk berada dibawah makam Photo.Tengku Harris Sinar |
1705 - Tengkoe Panglima Gandar Wahid lahir.
1728 - Tuanku Panglima Paderap Wafat dan dimakamkan didaerah Pulo Brayan. Pada saat pemilihan penerus Kerajaan Deli terjadilah perselisihan antara keempat putera beliau. Tuanku Jalaludin sebagai putera pertama tidak dapat menjadi penerus dikarenakan memiliki cacat dimatanya. Tuanku Pasutan sangat berambisi sekali untuk menjadi raja. Terjadilah perselisihan sengit diantara mereka. Dari perselisihan ini terusirlah Tuanku Umar Johan Alamsyah beserta ibundanya Tuanku Puan Sampali diusir ke Serdang. Sementara diangkatlah Tuanku Pasutan Gandar Wahid sebagai Raja Deli IV. Kronologis Tuanku Umar dapat dilihat di laman Serdang.
1728 Pasutan memindahkan pusat kerajaan dari Padang Datar, sebutan Kota Medan waktu itu, ke Kampung Alai, sebutan untuk Labuhan Deli. Untuk memperkuat kedudukannya dia mengangkat gelar datuk kepada 4 suku yang dikenal dengan Datuk 4 Suku, yaitu:
- Datuk XII Kota ( Daerah Hamparan Perak dan sekitarnya)
- Datuk Serbanyaman ( Daerah Sunggal dan sekitarnya)
- Datuk Senembah ( Daerah Patumbak,Tj.Morawa Dan sekitarnya)
- Datuk Suka Piring ( Daerah Kampung Baru dan Medan sekitarnya)
1761 - Tuanku Pasutan Gandar Wahid wafat dan dimakamkan di daerah Labuhan. Dia digantikan oleh Puteranya Tuanku Panglima Kanduhid sebagai Raja Deli V. Kanduhid menikahi puteri dari Datuk XII Kuta Hamparan Perak dan ditahun yang sama lahirlah Tengku Amaluddin.
Dibawah pemerintahanya kedudukan Datuk Empat Suku semakin kokoh sebagai wakil rakyat karena peranannya semakin nyata sebagai pengaman rakyat, Raja Deli ke V ini memindahkan pusat pemerintahan ke hilir yaitu ke daerah Kampung Labuhan Deli. Hal ini bila di perhatikan dimana pemindahan kedudukan pemerintahan yang berkali-kali, mulai dari Hulu Deli Tua hingga ke hilir Labuhan Deli, mempunyai tujuan tertentu yaitu ingin mengkokohkan wawasan tersebut. Dalam pemerintahan Sultan Deli ke V ini mulai merintis perdagangan hasil bumi dengan daerah lain.
1780 - Kesultanan Siak menaklukkan Deli.
1805 - Tuanku Kanduhid mangkat, dia digantikan putera ketiganya yaitu: Tuanku Amaluddin sebagai Raja Deli VI. Anak - anak Kanduhid yang lainnya adalah Wan Ka, Wan Koembang, Wan Ayat dan Wan Mende (Menikah 1822 dengan Pocoet Oedin, putra Raja Tunku Aceh).
1809 - Tuanku Raja Amaluddin menikah dengan anak Raja Hitam dari Langkat. Dari pernikahannya ini lahirlah Tuanku Osman di Labuhan.
8 Maret 1814 - Sultan Siak mengeluarkan Akte yang mengangkat Tuanku Amaluddin menjadi Sultan Panglima Mangendar Alam. Inilah awal gelar sultan diberikan kepada Raja Deli oleh Sultan Siak. Pada masa Pemerintahannya perdagangan antar daerah semakin terbuka. Hubungan laut mulai dirintis karena kedudukan pemerintahan di Labuhan Deli ini dekat dengan laut lepas, sehingga perdagangan hasil bumi semakin lancar. Tidak begitu lama dalam genggaman kesultanan Siak, Deli pun ditaklukkan lagi oleh kerajaan Aceh.
John Anderson, seorang pegawai Pemerintah Inggeris yang berkedudukan di Penang, pernah berkunjung ke Medan tahun 1823. Dalam bukunya bernama "Mission to the Eastcoast of Sumatera", edisi Edinburg tahun 1826, Medan masih merupakan satu kampung kecil yang berpenduduk sekitar 200 orang. Di pinggir sungai sampai ke tembok Mesjid kampung Medan, ada dilihatnya susunan batu-batu granit berbentuk bujur sangkar yang menurut dugaannya berasal dari Candi Hindu di Jawa.
1823 - Pada tahun 1823, Osman Perkasa Alam Shah diangkat sebagai pewaris dan sebagai wakil direktur dengan gelar Sultan Moeda Panglima Perkasa Alam.
1824 - Tanggal 18 maret 1824, Sultan Amaluddin mangkat, Dia digantikan oleh puteranya Osman Perkasa Alam Shah sebagai Sultan Deli VII. Dalam catatan Sultan Amaluddin pernah menikah dengan selirnya dan mempunyai puteri bernama Raja Wan Perak. (Raja Wan Perak menikah dengan Tengkoe Wan Johor, putra Raja Indra Bongsoe Kota Dalam menjadi selir muda).
Pada masa kekuasaannya Osman berhasil menaklukkan wilayah 4 suku: Sunggal, XII Kuta Hamparan Perak, Sukapiring dan Senembah.
1825 - Deli kembali menguat dan melepaskan diri dari kekuasaan Aceh. Negeri-negeri kecil sekitarnya seperti Buluh Cina, Sunggal, Langkat dan Suka Piring ditaklukkan dan menjadi wilayah Deli.
1831 - Anak pertama dari Sultan Osman Perkasa Alam Shah lahir dengan nama Tengku Mahmud. Lahir di Labuhan.
1852 - Tercatat dalam brouwertree.com Tuanku Osman Perkasa Alam Shah menikah dengan istri keduanya yaitu: Raja Siti Asmah anak dari Raja Mohammed Ali Shah, Sultan Asahan dan Tengkoe Ampoean.
![]() |
| Pedang Bawar Sultan Deli |
Pada masa itu juga Sultan Deli diberi gelar Perkasa Alam dan diberi Surat Penyerahan Negeri Deli serta daerah taklukannya dari Kuala Bayan Sampai Pasir Putih, kecuali Negeri Bedagai dan Langkat. Penyerahan ini dilaksanakan di Istana Darussalam Kuta Radja (Banda Aceh) dan mulai saat itu Raja-Raja Deli memekai Gelar Perkasa Alam hingga sekarang ini. Apabila Penabalan (pengangkatan) Sultan, Pedang Bawar ini sebagai Syarat Mutlak dalam Prosesi upacara tersebut.
1853 - Cucu Sultan Osman atau anak dari Tuanku Mahmud Perkasa Alam yang bernama Tengku Ma’mun Al Rasyid lahir.
1854 - Sultan Osman membangun sebuah Mesjid Megah, Besar dan permanent hingga kini masih berdiri sebagai tonggak sejarah yaitu Mesjid Al Osmani di Labihan Deli.
![]() |
| Mesjid Al Osmani |
1857 - Sebelum beliau meninggal, menurut catatan Sultan Osman Perkasa Alamsyah pernah menikah lagi dengan Sri Kamalah, putri tua dari Banu Ashim dan istrinya, kakak dari Datoek Amar Laoet, Datoek dari Soenggal. Dari pernikahannya ini, beliau memiliki 3 putera,yaitu: Tengku Mahmud, Tengkoe Soelaiman, dan Tengkoe Haji Ismail. Pada tanggal 22 Oktober 1857, diusia yang masih muda yaitu 48 tahun, Sultan Osman meninggal dunia. Beliau dimakamkan di komplek Mesjid ini. Beliau Di beri Gelar Marhum Mesjid.
![]() |
| Sultan Mahmud Perkasa Alam (Sultan Deli VII) |
1858 (4 Rabiul Awal 1275 H) - Setelah Sultan Osman wafat, diangkatlah putera sulungnya bernama Sultan Mahmud Perkasa Alam sebagai Sultan Deli VIII serta adiknya Tengku Sulaiman menjadi Raja Muda dengan Gelar Raja Muda Negeri Deli, dan Tengku Sulung Laut di beri Gelar Tengku Pangeran Negeri Bedagai Wajir Negeri Deli, dan adindanya Tengku Abdul Rahman dianugrahi Gelar Tengku Tumenggung Negeri Deli, dan Tengku Ja’far Al Haj di karuniai Gelar Pangeran Bendahara Negeri Deli.
Selama lima belas tahun memerintah Sultan ini mulai terjalin kerja sama dengan pihak asing (Belanda, Belgia, Polandia Inggris dll ) yang ditandai dengan kerja sama pembukaan lahan perkebunan Tembakau di kerajaan Deli. Diawali oleh seorang pengusaha Tembakau bernama Jakobus Nienhuys, kerja sama dalam usaha perkebunan Tembakau ditanda tangani, salah satu kontrak terbesar diberikan kepada Deli Maatschapij
2 Agustus 1862 - Residen Riau Elisa Netscher melalui mata-matanya, Raja Burhanuddin dari Pagaruyung mendapat kabar bahwa beberapa kerajaan di Sumatera Timur tidak mengakui Kerajaan Siak. Maka, dengan Kapal Reinier Claassen, berangkatlah Residen Riau dan assisten Residen Arnold berlayar ke Sumatera Timur.
21 Agustus 1862 - Rombongan Netscher memasuki Kuala Deli, dan disambut oleh Sultan Mahmud.
22 Agustus 1862 - Sultan Deli Mahmud Perkasa Alamsyah membuat perjanjian politik dengan Belanda dan melahirkan Acte van Verband. Ditandatanganilah kontrak perkebunan tembakau pertama. Lahan yang terletak di daerah Mabar sampai Deli Tua dan dikenal dengan nama Mabar Deli Tua kontrak.
Kontrak ini memberi wewenang independen dari Belanda atas kesultanan Aceh dan Siak. Daerah Deli menjadi makmur dan ramai di kunjungi oleh berbagai bangsa. Tak dapat di pungkiri,Sultan Deli VIII adalah perintis dan pelopor perkebunan Tembakau di negeri ini. Sebagian areal dari perusahan Perkebunan Nusantara II (saat ini )adalah hasil yang dilakukan oleh Sultan Mahmud Perkasa Alam. Sehingga sampai saat ini hasil dari Perkebunan yang dirintis oleh Sultan Deli ke VIII ini mewarnai pembangunan di Negeri yang kita cintai ini. Sultan Mahmud Pekasa Alam memiliki dalam hidupnya pernah menikah dengan Tengkoe Zaleha, putri Tengkoe Zainal Abidin. Sayang pernikahan dilarutkan oleh perceraian. Kemudian beliau menikah lagi dengan Encik Mariam. Beliau mempunyai tiga orang Putra dan Puteri, seorang Putra yaitu Tengku Ma’mun Al Rasyid dan dua orang Puteri yaitu Tengku Fatimah dan Tengku Zubaidah, namun Puteri-Puteri ini mangkat dalam usia muda. Untuk membaca tentang ibukota Labuhan klik artikel lain disini.
![]() |
| Istana Kota Batu di Labuhan Deli 1870 |
1870 - 1872 - Sultan Mahmud merenovasi secara permanen Mesjid Al Osmani di Labuhan. Artikel lainnya disini
1872 - Karena tidak meratanya pembagian lahan antara kolonial dan pribumi oleh Sultan Deli, membuat Kepala di Timbang Langkat, Sulong Barat (anak dari Dato' Jalil adik dari Dato' Kecil, Paman dari Dato' Sunggal: Badaiuzzaman Sri Diraja) mengumpulkan pasukan untuk mengancam Kesultanan Deli. Karena Sultan Mahmud selalu dengan gampangnya memberikan tanah kepada maskapai-maskapai kolonialis . Atas nama Sultan Deli maka Belanda pun menurunkan pasukannya untuk menahan perlawanan yang dilakukan oleh Sulong Barat dan kawan-kawan. Inilah awal mulanya perang Sunggal.
25 Oktober 1873 (13 Zulhijah 1271 H) - Sultan Mahmud mangkat dalam usia 44 tahun dan dimakamkan di lingkungan Mesjid Raya Al Osmani Labuhan Deli dan diberi Gelar Marhum Kota Batu. Pada masa pemerintahannya Beliau membangun sebuah Istana yang dinamakan Istana Kota Batu tepatnya di depan Mesjid Raya Al Osmani Labuhan Deli. Beliau digantikan oleh puteranya Sultan Ma’mun Al Rasyid sebagai Sultan Deli IX.
1886 - Pada hari Kamis jam 12 siang tanggal 12 Syakban 1304H (1886), Sultan Deli membangun Kampung Bahari di Labuhan Deli.
![]() |
| Sultan Ma'mun Al Rasyid sebagai Sultan Deli IX |
![]() |
| Istana Maimoon |
![]() |
| Tengku Besar Deli Amaluddin |
1893 - Putera Sulung Sultan, Tengku Amaluddin diangkat sbg Tsahifah Tjendra selaku Tengku Besar Deli.
1894 - Setelah 3 tahun lebih, Sultan Ma'mun Al Rasyid, pada tahun 1894, Sultan datang ke Laboehan Deli dengan mengendarai gerbong kereta api khusus milik sultan.
![]() |
| Acara Penyambutan Sultan Deli di :Laboehan 1894 |
17 November1899 - Tengkoe Besar Amaluddin menikah dengan Tengku Maheran, puteri dari Sultan Abdullah dari Perak dan diberi gelar Tengku Mahsuri Negeri Deli.
![]() |
| Tengkoe Besar Amaluddin menikah dengan Tengku Maheran |
20 Agustus 1900 - Lahirlah putra Tengkoe Besar Amaluddin dengan Tengku Maheran bernama Tengku Otteman.
16 April 1901 - Tak berapa lama setelah Tengku Otteman lahir, Tengku Maheran pun meninggal dunia.
![]() |
| Kantor Sultan Deli di Medan |
![]() |
| Anggota pengadilan Sultan Deli, di istananya di Medan |
Pada masa pemerintahanya Beliau banyak membangun fasilitas umum lainnya untuk kemajuan masyarakat dan membangun Mesjid-Mesjid yang berjumlah kurang lebih sebanyak 800 buah demi kepentingan syiar agama Islam pada saat itu. Atas jasa yang besar kepada Belanda, Sultan Deli pun mendapat penghargaan Knight Order of the Dutch Lion dari pemerintah Belanda.
![]() |
| Penghargaan Knight Order of the Dutch Lion kepada Sultan Ma'moen |
1903 - Setelah 3 tahun sepeninggalnya Tengku Maheran, Tengkoe Besar Amaluddin menikah dengan Encek Maryam yang kemudian digelar sebagai Encek Negara.
![]() |
| Derikhan Park (Taman Sri Deli sekarang) |
12 Nopember 1905 - Mendirikan sebuah Istana baru yang terletak antara Jl. Amaliun dan Jl. Puri yang diberi nama Istana Kota Maksum. selain itu juga Sultan Ma’mun membangun sebuah Mesjid Raya pada tahun 1906 dan diresmikan pada hari Jumat 10 Nopember 1909 yang dihadiri para Sultan antara lain Sultan Langkat dan Sultan Serdang.
![]() |
| Istana Puri Kota Maksum |
![]() |
| Istana Tengku Besar deli |
1907 - Acte van Verband kemudian diperbaharui pasal - pasalnya, lahirlah Politiek Contract pada tanggal 2 Juni. Dari pasal - pasal ini lebih banyak menguntungkan pihak Belanda.
20 Desember 1911 - Tengku Otteman berangkat ke Batavia untuk meneruskan pendidikannya dan tamat pada tahun 1918 lalu melanjutkan pendidikan tinggi di bidang hukum dan pemerintahan di LID RAAD VAN JUSTITIE.
![]() |
| Kunjungan Gubernur Jenderal Fock 1920 |
Jadi untuk menguasai Tanah Deli Belanda hanya kurang lebih 78 tahun mulai dari tahun 1864 sampai 1942. Setelah perang Jawa berakhir barulah Gubernur Jenderal Belanda Johannes van den Bosch mengerahkan pasukannya ke Sumatera dan dia memperkirakan untuk menguasai Sumatera secara keseluruhan diperlukan waktu 25 tahun. Penaklukan Belanda atas Sumatera ini terhenti di tengah jalan karena Menteri Jajahan Belanda waktu itu Jean Chrétien Baud menyuruh mundur pasukan Belanda di Sumatera walaupun mereka telah mengalahkan Minangkabau yang dikenal dengan nama Perang Paderi (1821-1837).
Sultan Ismail yang berkuasa di Riau secara tiba-tiba diserang oleh gerombolan Inggris dengan pimpinannya bernama Adam Wilson. Berhubung pada waktu itu kekuatannya terbatas maka Sultan Ismail meminta perlindungan pada Belanda. Sejak saat itu terbukalah kesempatan bagi Belanda untuk menguasai Kesultanan Siak Sri Indrapura yang rajanya adalah Sultan Ismail. Pada tanggal 1 Februari 1858 Belanda mendesak Sultan Ismail untuk menandatangani perjanjian agar daerah taklukan kerajaan Siak Sri Indrapura termasuk Deli, Langkat dan Serdang di Sumatra Timur masuk kekuasaan Belanda. Karena daerah Deli telah masuk kekuasaan Belanda otomatislah Kampung Medan menjadi jajahan Belanda, tapi kehadiran Belanda belum secara fisik menguasai Tanah Deli.
Pada tahun 1858 juga Elisa Netscher diangkat menjadi Residen Wilayah Riau dan sejak itu pula dia mengangkat dirinya menjadi pembela Sultan Ismail yang berkuasa di kerajaan Siak. Tujuan Netscher itu adalah dengan duduknya dia sebagai pembela Sultan Ismail secara politis tentunya akan mudah bagi Netscher menguasai daerah taklukan Kesultanan Siak yakni Deli yang di dalamnya termasuk Kampung Medan Putri.
Perkebunan Tembakau
![]() |
| Tembakau Deli Sumber:https://wisata2medan.wordpress.com/2014/09/23/sejarah-kota-medan-2/ |
Medan tidak mengalami perkembangan pesat hingga tahun 1860-an, ketika penguasa-penguasa Belanda mulai membebaskan tanah untuk perkebunan tembakau. Jacob Nienhuys, Van der Falk, dan Elliot, pedagang tembakau asal Belanda memelopori pembukaan kebun tembakau di Tanah Deli. Nienhuys yang sebelumnya berbisnis tembakau di Jawa, pindah ke Deli diajak seorang Arab Surabaya bernama Said Abdullah Bilsagih, Saudara Ipar Sultan Deli, Mahmud Perkasa Alam Deli. Nienhuys pertama kali berkebun tembakau di tanah milik Sultan Deli seluas 4.000 Bahu di Tanjung Spassi, dekat Labuhan. Maret 1864, Nienhuys mengirim contoh tembakau hasil kebunnya ke Rotterdam, Belanda untuk diuji kualitasnya. Ternyata, daun tembakau itu dianggap berkualitas tinggi untuk bahan cerutu. Melambunglah nama Deli di Eropa sebagai penghasil bungkus cerutu terbaik.
Seperti yang dituliskan oleh Tengku Luckman Sinar dalam bukunya, dijelaskan bahwa "kuli-kuli perkebunan itu umumnya orang-orang Tionghoa yang didatangkan dari Jawa, Tiongkok, Singapura, atau Malaysia, dimana disebutkan dalam catatan berbahasa Belanda bahwa “Belanda menganggap orang-orang Karo dan Melayu malas serta melawan sehingga tidak dapat dijadikan kuli”
Pesatnya perkembangan Kampung "Medan Putri", juga tidak terlepas dari perkebunan tembakau yang sangat terkenal dengan tembakau Delinya, yang merupakan tembakau terbaik untuk pembungkus cerutu. Pada tahun 1863, Sultan Deli memberikan kepada Jacob Nienhuys, Van der Falk dan Elliot dari Firma Van Keeuwen en Mainz & Co, tanah seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) secara erfpacht 20 tahun di Tanjung Sepassi, dekat Labuhan. Contoh tembakau deli. Maret 1864, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda, untuk diuji kualitasnya. Ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan berkualitas tinggi untuk pembungkus cerutu.
Perjanjian tembakau ditandatangani Belanda dengan Sultan Deli pada tahun 1865. Selang dua tahun, Nienhuys bersama Jannsen, P.W. Clemen, dan Cremer mendirikan perusahaan De Deli Maatschappij yang disingkat Deli Mij di Labuhan. Pada tahun 1869, Nienhuys memindahkan kantor pusat Deli Mij dari Labuhan ke Kampung Medan. Kantor baru itu dibangun di pinggir sungai Deli, tepatnya di kantor PTPN II (eks PTPN IX) sekarang. Dengan perpindahan kantor tersebut, Medan dengan cepat menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan perdagangan, sekaligus menjadi daerah yang paling mendominasi perkembangan di Indonesia bagian barat. Pesatnya perkembangan perekonomian mengubah Deli menjadi pusat perdagangan yang mahsyur dengan julukan het dollar land alias tanah uang. Mereka kemudian membuka perkebunan baru di daerah Martubung, Sunggal pada tahun 1869, serta Sungai Beras dan Klumpang pada tahun 1875.
Kemudian pada tahun 1866, Jannsen, P.W. Clemen, Cremer dan Nienhuys mendirikan Deli Maatschappij di Labuhan. Kemudian melakukan ekspansi perkebunan baru di daerah Martubung, Sunggal (1869), Sungai Beras dan Klumpang (1875), sehingga jumlahnya mencapai 22 perusahaan perkebunan pada tahun 1874. Mengingat kegiatan perdagangan tembakau yang sudah sangat luas dan berkembang, Nienhuys memindahkan kantor perusahaannya dari Labuhan ke Kampung "Medan Putri". Dengan demikian "Kampung Medan Putri" menjadi semakin ramai dan selanjutnya berkembang dengan nama yang lebih dikenal sebagai "Kota Medan".
Perkembangan Medan Putri menjadi pusat perdagangan telah mendorongnya menjadi pusat pemerintahan. Tahun 1879, Ibu kota Asisten Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan, 1 Maret 1887, ibu kota Residen Sumatra Timur dipindahkan pula dari Bengkalis ke Medan, Istana Kesultanan Deli yang semula berada di Kampung Bahari (Labuhan) juga pindah dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada tanggal 18 Mei 1891, dan dengan demikian Ibu kota Deli telah resmi pindah ke Medan.
Pada tahun 1915 Residensi Sumatra Timur ditingkatkan kedudukannya menjadi Gubernemen. Pada tahun 1918 Kota Medan resmi menjadi Gemeente (Kota Praja) dengan Wali kota Baron Daniel Mackay. Berdasarkan "Acte van Schenking" (Akta Hibah) Nomor 97 Notaris J.M. de-Hondt Junior, tanggal 30 Nopember 1918, Sultan Deli menyerahkan tanah kota Medan kepada Gemeente Medan, sehingga resmi menjadi wilayah di bawah kekuasaan langsung Hindia Belanda. Pada masa awal Kotapraja ini, Medan masih terdiri dari 4 kampung, yaitu Kampung Kesawan, Kampung Sungai Rengas, Kampung Petisah Hulu dan Kampung Petisah Hilir.
Pada tahun 1918 penduduk Medan tercatat sebanyak 43.826 jiwa yang terdiri dari Eropa 409 orang, Indonesia 35.009 orang, Cina 8.269 orang dan Timur Asing lainnya 139 orang.
Sejak itu Kota Medan berkembang semakin pesat. Berbagai fasilitas dibangun. Beberapa di antaranya adalah Kantor Stasiun Percobaan AVROS di Kampung Baru (1919), sekarang RISPA, hubungan Kereta Api Pangkalan Brandan - Besitang (1919), Konsulat Amerika (1919), Sekolah Guru Indonesia di Jl. H.M. Yamin sekarang (1923), Mingguan Soematra (1924), Perkumpulan Renang Medan (1924), Pusat Pasar, R.S. Elizabeth, Klinik Sakit Mata dan Lapangan Olah Raga Kebun Bunga (1929).
Secara historis perkembangan Kota Medan, sejak awal telah memposisikan menjadi pusat perdagangan (ekspor-impor) sejak masa lalu. sedang dijadikannya medan sebagai ibu kota deli juga telah menjadikannya Kota Medan berkembang menjadi pusat pemerintah. sampai saat ini di samping merupakan salah satu daerah kota, juga sekaligus sebagai ibu kota Propinsi Sumatra Utara.
Masa Penjajahan Jepang
Tahun 1942 penjajahan Belanda berakhir di Sumatra yang ketika itu Jepang mendarat dibeberapa wilayah seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan khusus di Sumatra Jepang mendarat di Sumatra Timur.
Tentara Jepang yang mendarat di Sumatra adalah tentara XXV yang berpangkalan di Shonanto yang lebih dikenal dengan nama Singapura, tepatnya mereka mendarat tanggal 11 malam 12 Maret 1942. Pasukan ini terdiri dari Divisi Garda Kemaharajaan ke-2 ditambah dengan Divisi ke-18 dipimpin langsung oleh Letjend. Nishimura. Ada empat tempat pendaratan mereka ini yakni Sabang, Ulele, Kuala Bugak (dekat Peureulak, Aceh Timur sekarang) dan Tanjung Tiram (kawasan Batubara sekarang).
Pasukan tentara Jepang yang mendarat di kawasan Tanjung Tiram inilah yang masuk ke Kota Medan, mereka menaiki sepeda yang mereka beli dari rakyat di sekitarnya secara barter. Mereka bersemboyan bahwa mereka membantu orang Asia karena mereka adalah saudara Tua orang-orang Asia sehingga mereka dieluelukan menyambut kedatangannya.
Ketika peralihan kekuasaan Belanda kepada Jepang Kota Medan kacau balau, orang pribumi mempergunakan kesempatan ini membalas dendam terhadap orang Belanda. Keadaan ini segera ditertibkan oleh tentara Jepang dengan mengerahkan pasukannya yang bernama Kempetai (Polisi Militer Jepang). Dengan masuknya Jepang di Kota Medan keadaan segera berubah terutama pemerintahan sipilnya yang zaman Belanda disebut gemeentebestuur oleh Jepang diubah menjadi Medan Sico (Pemerintahan Kotapraja). Yang menjabat pemerintahan sipil di tingkat Kotapraja Kota Medan ketika itu hingga berakhirnya kekuasaan Jepang bernama Hoyasakhi. Untuk tingkat keresidenan di Sumatra Timur karena masyarakatnya heterogen disebut Syucokan yang ketika itu dijabat oleh T. Nakashima, pembantu Residen disebut dengan Gunseibu.
Penguasaan Jepang semakin merajalela di Kota Medan mereka membuat masyarakat semakin papa, karena dengan kondisi demikianlah menurut mereka semakin mudah menguasai seluruh Nusantara, semboyan saudara Tua hanyalah semboyan saja. Di sebelah Timur Kota Medan yakni Marindal sekarang dibangun Kengrohositai sejenis pertanian kolektif. Di kawasan Titi Kuning Medan Johor sekarang tidak jauh dari lapangan terbang Polonia sekarang mereka membangun landasan pesawat tempur Jepang.
Masa Kemerdekaan Indonesia
Dimana-mana di seluruh Indonesia menjelang tahun 1945 bergema persiapan Proklamasi demikian juga di Kota Medan tidak ketinggalan para tokoh pemudanya melakukan berbagai macam persiapan. Mereka mendengar bahwa bom atom telah jatuh melanda Kota Hiroshima, berarti kekuatan Jepang sudah lumpuh. Sedangkan tentara sekutu berhasrat kembali untuk menduduki Indonesia.
Khususnya di kawasan kota Medan dan sekitarnya, ketika penguasa Jepang menyadari kekalahannya segera menghentikan segala kegiatannya, terutama yang berhubungan dengan pembinaan dan pengerahan pemuda. Apa yang selama ini mereka lakukan untuk merekrut massa pemuda seperti Heiho, Romusa, Gyu Gun dan Talapeta mereka bubarkan atau kembali kepada masyarakat. Secara resmi kegiatan ini dibubarkan pada tanggal 20 Agustus 1945 karena pada hari itu pula penguasa Jepang di Sumatra Timur yang disebut Tetsuzo Nakashima mengumumkan kekalahan Jepang. Ia juga menyampaikan bahwa tugas pasukan mereka dibekas pendudukan untuk menjaga status quo sebelum diserah terimakan pada pasukan sekutu. Sebagian besar anggota pasukan bekas Heiho, Romusa, Talapeta dan latihan Gyu Gun merasa bingung karena kehidupan mereka terhimpit dimana mereka hanya diberikan uang saku yang terbatas, sehingga mereka kelihatan berlalu lalang dengan seragam coklat di tengah kota.
Beberapa tokoh pemuda melihat hal demikian mengambil inisiatif untuk menanggulanginya. Terutama bekas perwira Gyu Gun di antaranya Letnan Achmad Tahir mendirikan suatu kepanitiaan untuk menanggulangi para bekas Heiho, Romusa yang famili/saudaranya tidak ada di kota Medan. Panitia ini dinamai dengan “Panitia Penolong Pengangguran Eks Gyu Gun“ yang berkantor di Jl. Istana No.17 (Gedung Pemuda sekarang).
Tanggal 17 Agustus 1945 gema kemerdekaan telah sampai ke kota Medan walupun dengan agak tersendat-sendat karena keadaan komunikasi pada waktu itu sangat sederhana sekali. Kantor Berita Jepang “Domei" sudah ada perwakilannya di Medan namun mereka tidak mau menyiarkan berita kemerdekaan tersebut, akibatnya masyarakat tambah bingung.
Sekelompok kecil tentara sekutu tepatnya tanggal 1 September 1945 yang dipimpin Letnan I Pelaut Brondgeest tiba di kota Medan dan berkantor di Hotel De Boer (sekarang Hotel Dharma Deli). Tugasnya adalah mempersiapkan pengambilalihan kekuasaan dari Jepang. Pada ketika itu pula tentara Belanda yang dipimpin oleh Westerling didampingi perwira penghubung sekutu bernama Mayor Yacobs dan Letnan Brondgeest berhasil membentuk kepolisian Belanda untuk kawasan Sumatra Timur yang anggotanya diambil dari eks KNIL dan Polisi Jepang yang pro Belanda.
Akhirnya dengan perjalanan yang berliku-liku para pemuda mengadakan berbagai aksi agar bagaimanapun kemerdekaan harus ditegakkan di Indonesia demikian juga di kota Medan yang menjadi bagiannya. Mereka itu adalah Achmad Tahir, Amir Bachrum Nasution, Edisaputra, Rustam Efendy, Gazali Ibrahim, Roos Lila, A.malik Munir, Bahrum Djamil, Marzuki Lubis dan Muhammad Kasim Jusni.
1990-an dan 2000-an
Pada tahun 1998, dari 1 hingga 12 Mei, Medan dilanda kerusuhan besar yang menjadi titik awal kerusuhan-kerusuhan besar yang kemudian terjadi di sepanjang Indonesia, termasuk Peristiwa Mei 1998 di Jakarta seminggu kemudian. Dalam kerusuhan yang terkait dengan gerakan "Reformasi" ini, terjadi pembakaran, perusakan, maupun penjarahan yang tidak dapat dihentikan aparat keamanan.
Pada durasi Tragedi Trisakti hingga Kerusuhan Mei 1998 selama pada tanggl 12 Mei hingga sekarang karena tidak dapat bekerja kantor dan pendidikan lagi waktunya menjelang libur umum semasa pada tidak terbit dari media massa, Sementara Bandar Udara Internasional Polonia dari seluruh dibuka selama 24-jam setiap hari, Pada tanggal 21 Mei tepat pada pukul 02:00 WIB sebagai libur umum besar sudah upacara penutup telah berhenti bandar udara dari semuanya berkumpul pindah ke Kuala Lumpur (adalah ibu kota negara Malaysia) yang tidak kembali tempat tinggal lagi dan bandar udara ke dari pesawat terbang milik penerbangan Malaysia Airlines Penerbangan Airbus A330 tiba ke Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur (dulu Bandar Udara Sultan Abdul Aziz Shah) dari kawasan Subang Jaya, Kota Petaling, Negara Bagan Selangor, Daerah Semenanjung Malaysia, Negara Malaysia.
Saat ini kota Medan telah kembali berseri. Pembangunan sarana dan prasarana umum gencar dilakukan. Meski jumlah jalan-jalan yang rusak, berlobang masih ada, namun jika dibandingkan dahulu, sudah sangat menurun.[butuh rujukan] Kendala klasik yang dihadapi kota modern seperti Medan adalah kemacetan akibat jumlah kenderaan yang meningkat pesat dalam hitungan bulan, tidak mampu diimbangi dengan peningkatan sarana jalan yang memadai.

























